Cari Produk


Username
Password

  NAUVAL BOMANTARA
  SABINUS TAWUR
  AJI AGUNG ANUGRAH
Jumlah Anggota : 16038

Register alamat email Anda di sini
Nama
Email



Download harga produk
Konfirmasi Pembayaran Anda di sini
Order Id
Jumlah Pembayaran
Tanggal Transfer



Bandingkan Produk:
0
 

IMMUNATOR Honey 100 ml
Harga Rp 365.000   Disc 0%   Rp 365.000 | Berat Pengiriman : 0.3 kg
Bandingkan dengan Produk lain?
Rating :
Produk Sejenis :

Produk Pelengkap :


Rp 365.000   Disc 0%   Rp 365.000




Stok barang ready selalu, free bubble wrap, tidak ada tambahan biaya packing/bubble
Bekerja lebih baik dgn Virgin Coconut Oil
IH atau Immunator Honey itu immuno-potentiator
bekerja spt Virus yang datang mengancam tubuh lewat jalur mukosa digerbang masuknya patogen ketubuh, spt mulut, mata, hidung, telinga, anus, kemaluan
Bertemunya IH dgn sel2 immune dibalik mukosa ini, memicu efek "alert" secara sistemik ditubuh, yg membuat semua sel2 immune menjadi "sensitif" utk mengenali semua abnormalitas/anomali ditubuh
kemudian akan memicu "respon immune" utk memperbaiki kondisi abnormalitas/anomali yg teridentifikasi didalam tubuh, dalam hitungan detik, menit atau jam, stl IH menyentuh mukosa ditubuh di lokasi manapun (lidah, gusi, anus, kemaluan, dsb)
Jadi yg di cari dari IH bukan glukosa/fruktosa sbg sumber energi spt madu biasa,
Tapi "Challenge" nya utk membuat sistem immune (dokter didalam tubuh) kembali bisa melihat apa masalah sebenarnya didalam tubuh, misalnya jika sistem immune yg menjadi "alert" ini melihat overinflamasi sedang berlangsung, maka inflamasi akan diturunkan (spt saat HC berlangsung atau pada autoimmunitas) atau melihat adanya sel abnormal/ asing spt sel kanker atau patogen, maka akan memicu serangan thd sel2 abnormal tsb
atau melihat adanya akumulasi kotoran ditubuh, spt Plak2 kolestrol, maka akan memicu pembersihan (scavenging) thd kotoran tsb

Fungsi sistem immune utk bekerja dioptimalkan (disensitifikasi)
1) Rejection (menolak semua antigen asing/abnormal)
2) Tolerance (toleransi thd semua antigen teman/self)
3) House Keeping (pembersihan thd akumulasi kotoran


Immunator Honey merupakan “Alat” yang digunakan untuk memicu “Sensitifikasi” sistem immune, dimana hal ini dapat terjadi disaat “Tubuh” mengalami “Ancaman”. Immunator Honey menggunakan protein yang berasal dari Colostrum Sapi, yang diproses secara “Ultrafiltrasi” sehingga menghasilkan ukuran partikel yg sangat kecil (Dalton Size). Ukuran yang sangat kecil untuk bisa meniru ukuran protein pada “antigen” Virus. Antigen Virus merupakan protein yg dilapisi Glukosa (Glycosylated Viral Protein – Glycoprotein), sehingga agar protein dari colostrum sapi ini bisa meniru bentuk dari antigen Virus, maka protein yang telah di “Ultrafiltrasi” ini di “Infused” (Inkubasi) dengan madu, sehingga akan membentuk proses “enzymatic” yang memicu perekatan Glukosa dari Madu pada permukaan protein tersebut.

Inilah tujuan mengapa Immunotherapy yang dihasilkan oleh Immunator Honey, harus menggunakan media Madu sebagai “Pembawa” nya (Carrier).

Efek yang dihasilkan oleh “Ancaman Fiktif” dari Immunator Honey, akan membuat sistem immune menjadi “Waspada” (Alert). Disinilah proses “Sensitifikasi” sel-sel immune terjadi, dimana kondisi Alert ini akan menyebabkan sel-sel immune menjadi “Aktif” bergerilya mencari “Antigen-Antigen non-Self” (antigen asing atau malignant) dilingkungan “Microcellular” didalam tubuh (Immuno-Surveillance).

Respon Immune yang dihasilkan Protein berlapis glukosa ini akan menimbulkan “Alert” di sel-sel immune Adaptif, seperti CD4 (T-Helper Cells), CD8 (T-Killer Cells), CD56 (NK-Cells) dan CD19 (B-Cells). Dimana “Lymphocte Subset” ini adalah sel-sel immune yang bertugas “Menseleksi” dan “Mencari” sel-sel yang terinfeksi ditubuh dan juga sel-sel yang bersifat “Malignant” (sel Kanker).‎

Immunator Honey Icon

Immunator honey merupakan sebuah produk pelengkap untuk pendamping program ketofastosis yang bisa anda dapatkan dari komunitas fastosis. Produk ini dibuat oleh Bpk. Agus / Tyo Prasetyo yang merupakan  Founder dari program fastosis ini.


REJECTION (Penolakan) adalah kondisi dimana Sistem Immune manusia menjadi sensitif untuk mengenali abnormalitas ditubuh, seperti kehadiran dan keberadaan sel-sel yang abnormal. Sel abnormal ini dapat berupa Pathogen (Virus, Bakteri, Jamur dan Parasit), Kanker/Tumor, Sel Rusak/Menua, dan sel-sel yang terinfeksi.

Rejection ini dipicu oleh “Challenge”(Tantangan) yang dihasilkan oleh Immunator Honey, saat menyentuh lapisan Mukosa (Mucosal) ditubuh, seperti jalur “Oral” (lidah, gusi, dibawah lidah/sublingual, rongga mulut, esophagus, “Intranasal” (dalam hidung), “intraotitis” (dalam telinga), “intraocular” (mata), “intrarectal” (jalur anus), “intravaginal” (jalur vagina) dan “subcutaneous” (luka terbuka/dibawah kulit) “Challenge” yang dihasilkan saat Immunator Honey menyentuh lapisan mukosa ini, akan memicu “Antigen Receptor” pada seluruh sel-sel immune ditubuh menjadi “Sensitif” (Melek) dan akan membuat sel-sel immune bisa mengenali kehadiran sel-sel “abnormal” lain ditubuh. Efek identifikasi yang dihasilkan ini akan memicu “Immune Response” terhadap sel-sel abnormal tersebut, dan akan menginisiasikan proses “Rejection” untuk meng”eliminasi” sel-sel ini.

Efek “Sensitifikasi” sistem immune ini tidak hanya sebatas “Rejection” saja, namun juga memicu “Toleransi” (Immuno-Tolerance) pada kondisi seperti Autoimmune, Allergy dan Hypersensitivitas. Selain itu kondisi “Sensitif” ini akan mencegah terjadinya “Over Inflammation” (Inflamasi Berlebih) yang mungkin dihasilkan oleh “Respon Immune” yang “abnormal” ditubuh dan malah menimbulkan efek “negatif” terhadap kesehatan.

Kondisi “Sensitif” ini juga akan memicu “Pembersihan” terhadap “Impurities” (kotoran/racun) yang ada ditubuh, seperti penumpukan “Plaque” (plak) pada arteri, materi sel-sel rusak atau tidak fungsional, antigen asing yang menempel dipermukaan sel normal (pemicu autoimmunitas), radikal bebas (ROS), protein/lemak yang teroksidasi, glycation (pelengketan glukosa/karamelisasi), dan berbagai materi lainnya yang mengganggu keseimbangan (Homeostasis) ditubuh. Hal ini dilakukan melalu proses yang disebut “Phagocytosis”, yaitu proses pembersihan ditubuh yang dilakukan oleh sel immune (Phagocytes) seperti “Macrophage”.

Efek “Sensitifikasi” ini juga memicu “Rejuvenation” (perbaikan/regenerasi/reverse aging), dimana sensitifikasi sel-sel immune akan memicu proses “Signalling” (komunikasi) melalui “cytokine” berlangsung dengan cepat. Saat sel-sel immune membersihkan lokasi masalah yang terindentifikasi, maka signal-signal perbaikan dilokasi tersebut akan memicu kehadiran berbagai unsur “Regenerasi Sel” yang akan dilanjutkan dengan Regenerasi ulang terhadap sel-sel yang bermasalah sebelumnya. Dan hal ini akan memicu “Restorasi” kembali terhadap fungsionalitas sel-sel yang sebelumnya bermasalah atau kehilangan fungsinya akibat suatu hal, seperti contohnya infeksi, oksidasi radikal bebas, glycation, dsb.

SELECTION (Seleksi) adalah kondisi dimana metabolisme lemak (Fat Metabolism) yang membutuhkan “Mitochondria” (Generator Energi didalam sel Manusia/Mamalia) dan Defisit Kalori yang dihasilkan Puasa, akan memicu “Selektivitas” terhadap keberadaan sel-sel abnormal ditubuh. Seleksi ini akan terjadi pada sel-sel yang bersifat terlalu “Anabolic” (Berkembang/Bertumbuh Pesat) seperti :

Sel Kanker/Tumor – Yang merupakan sel “Malignant” yang hanya bisa menggunakan “Glukosa” (dari sumber Karbohidrat), untuk metabolismenya. Ini terjadi karena sel Kanker merupakan sel yang telah mengalami “disfungsi” atau “kerusakan” pada “Mitochondria” nya, sehingga sel Kanker hanya dapat menggunakan “glukosa” untuk dipakai sebagai “Bahan Bakar” penghasil energi, melalui jalur “Fermentasi” (Lactic Acid Fermentation) dimana jalur metabolisme dengan fermentasi ini tidak membutuhkan “Oksigen” seperti halnya jalur metabolisme sel normal yang menggunakan “Mitochondria” sebagai “Generator Energi” yang membutuhkan proses Oksidasi dengan Oksigen untuk menghasilkan energi.Output dari proses “Fermentasi Glukosa” sel kanker ini adalah Energi dan Lactic Acid/Lactat (Asam Laktat). Dimana asam laktat ini akan kemudian akan memicu “Pengentalan Darah” dan “Penurunan PH darah” ditubuh. Asam Laktat ini juga akan “Menaikkan” glukosa darah dari efek “Recycle” terhadap asam laktat ini di liver untuk dirubah kembali menjadi Glukosa (Cori Cycle).Output dari metabolisme sel normal yang menggunakan jalur “Mitochondria” untuk memproses “Glukosa” (Karbohidrat), “Lemak” (Fatty Acid), “Ketone”, dan “Protein” (Amino Acid), akan menghasilkan Energi dan ekses metabolisme berupa CO2 (Karbon DiOksida) dan H2O (Air).
Sel Glycolytic (sel yang bersifat sangat aktif menggunakan glukosa dan menjadi independent atau ketergantungan dengan glukosa untuk metabolismenya)Contoh sel-sel seperti ini adalah sel-sel yang terinfeksi dan sel-sel yang rusak/menua yang mengalami penurunan fungsionalitas ditubuh. Sel-sel ini akan “Terseleksi” oleh kondisi “Defisit Kalori” dan “Rendahnya keberadaan glukosa” ditubuh.Sel normal yang mengalami “Infeksi” akan mengalami penurunan fungsi “Mitochondria” dan juga akan menggunakan jalur “Fermentasi” seperti halnya yang terjadi pada “sel Kanker”. Sifat “Glycolytic” ini merupakan sifat yang dimiliki “sel primitif” seperti “Pathogen” yang diduplikasi didalam sel normal yang di “infeksi” oleh pathogen tersebut. Ini sebabnya saat infeksi berlangsung, maka produksi “asam laktat” pun akan turut meningkat ditubuh, dan biasanya diikuti dengan kenaikan level glukosa darah saat Infeksi ini berlangsung.
Sel-sel Immune yang Abnormal (Autoimmune)Respon Immune abnormal yang terlihat pada berbagai kasus autoimmune merupakan ekspresi dari aktivitas “glycolytic” yang tinggi pada sel-sel immune. Dengan kondisi rendah glukosa dan kalori defisit yang diciptakan oleh Fastosis, akan menggeser differensiasi sel-sel immune abnormal ini menjadi respon immune yang anti inflamasi, dimana bahan bakar lemak (fatty acid) akan menjadi pemicu utk mengubah tipe sel-sel immune tersebut dari “autoreactive” menjadi “tolerance” (toleransi terhadap sel normal ditubuh)


Immunator Honey merupakan “alat” yang digunakan diprogram untuk membentuk “Conditioning” terhadap sistem immune manusia untuk selalu “Melek” (sensitif), sehingga mampu memicu identifikasi terhadap segala “abnormalitas” ditubuh. Abnormalitas ini dapat berupa kehadiran sel-sel “antigenic” seperti “pathogen” maupun “sel kanker”. Abnormalitas ini juga dapat berupa kondisi “Inflamasi” berlebihan yang terjadi sebelumnya, akibat sel-sel immune yang bersifat “overreaktif” dan “inflammatif”. Kondisi “sensitif” yang dipicu Immunator Honey, akan mengembalikan keseimbangan respon immune dan mencegah terjadinya “Over-Inflammasi” dalam “Usaha” sel-sel immune membereskan masalah yang ada “sebelumnya” (Existing Problem/abnormalitas). Kondisi “sensitif” ini akan mengoptimalkan “proses perbaikan” yang akan berlangsung, namun tetap menjaga “intensitas” respon immune agar tidak menyebabkan “Over-Inflamasi” yang bersifat “Negatif” dan justru akan melukai “Host” (tubuh) nya sendiri. Hal ini diperoleh saat semua receptor dipermukaan sel-sel immune menjadi meningkat kesensitifannya dan dapat mengatur proses “Signalling” antar sel lebih baik (Negative Feed Back Loop). Sehingga respon immune untuk perbaikan kondisi, menjadi lebih terkontrol dan menciptakan “Thermostat” alami yg dapat mencegah terjadinya “Indikasi Over-Inflamasi” yang mungkin terjadi. Sel-sel Immune yang telah sensitif ini juga akan memperhalus transisi menuju kondisi “Ketosis”, dimana kemungkinan kemunculan gejala “Hypoglycemic” akan terkontrol dan tidak menyebabkan efek “inflamasi” lanjutan ditubuh. Hal ini diperoleh dari efek sensitifitas sistem immune yang mampu mencegah terjadinya “Over-Inflamasi” seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas. Sensitifikasi sistem immune ini juga memicu “aktivitas” sistem immune manusia yang lebih “Aktif”. Dimana kondisi “Aktif” ini akan membuat konsumsi “Energi” menjadi lebih besar ditubuh, akibat kebutuhan energi yang diciptakan oleh sel-sel immune yang menjadi aktif “Bergerilya” (Immuno-Surveillance) untuk mencari “antigen-antigen asing/abnormal” ditubuh, seperti antigen dari “pathogen” maupun “sel kanker”. Aktivasi sistem immune ini juga akan memicu proses pembersihan (Phagocytosis) terhadap “kotoran-kotoran” (impurities) ditubuh, seperti halnya proses “Scavenging” yang dilakukan oleh “Macrophage” pada “Plak” di arteri pembuluh darah. Aktivitas pembersihan ini memicu peningkatan kebutuhan “energi” ditubuh. Dengan demikian, secara “overall” aktivasi sistem immune jelas akan meningkatkan kebutuhan energi (metabolisme) ditubuh, dan akan menciptakan “Kalori Defisit” yang lebih “Besar”. Kalori Defisit ini akan mempercepat proses pembersihan (konsumsi) glukosa ditubuh, dan akan “Mempercepat” proses “Transisi” ke kondisi “Ketosis” yang diharapkan. Immunator Honey merupakan “Alat” yang digunakan untuk memicu “Sensitifikasi” sistem immune, dimana hal ini dapat terjadi disaat “Tubuh” mengalami “Ancaman”. Immunator Honey menggunakan protein yg berasal dari Colostrum Sapi, yang diproses secara “Ultrafiltrasi” sehingga menghasilkan ukuran partikel yg sangat kecil (Dalton Size). Ukuran I sangat kecil untuk bisa meniru ukuran protein pada “antigen” Virus. Antigen Virus merupakan protein yg dilapisi Glukosa (Glycosylated Viral Protein – Glycoprotein), sehingga agar protein dari colostrum sapi ini bisa meniru bentuk dari antigen Virus, maka protein yang telah di “Ultrafiltrasi” ini di “Infused” (Inkubasi) dengan madu, sehingga akan membentuk proses “enzymatic” yang memicu perekatan Glukosa dari Madu pada permukaan protein tersebut. Inilah tujuan mengapa Immunotherapy yang dihasilkan oleh Immunator Honey, harus menggunakan media Madu sebagai “Pembawa” nya (Carrier). Efek yang dihasilkan oleh “Ancaman Fiktif” dari Immunator Honey, akan membuat sistem immune menjadi “Waspada” (Alert). Disinilah proses “Sensitifikasi” sel-sel immune terjadi, dimana kondisi Alert ini akan menyebabkan sel-sel immune menjadi “Aktif” bergerilya mencari “Antigen-Antigen non-Self” (antigen asing atau malignant) dilingkungan “Microcellular” didalam tubuh (Immuno-Surveillance). Respon Immune yang dihasilkan Protein berlapis glukosa ini akan menimbulkan “Alert” di sel-sel immune Adaptif, seperti CD4 (T-Helper Cells), CD8 (T-Killer Cells), CD56 (NK-Cells) dan CD19 (B-Cells). Dimana “Lymphocte Subset” ini adalah sel-sel immune yang bertugas “Menseleksi” dan “Mencari” sel-sel yang terinfeksi ditubuh dan juga sel-sel yang bersifat “Malignant” (sel Kanker).











Propinsi
Kabupaten
Kota
Kecamatan

Didukung oleh
Kami mencoba untuk menyajikan data seakurat mungkin, namun untuk kepastian, disarankan untuk merujuk pada spesifikasi resmi pada situs-situs produk yang bersangkutan. Bila Anda menemukan kesalahan dalam database kami, silahkan beritahu kami, sehingga Anda pun ikut membantu pengunjung lain mendapatkan data yang benar.


 


Cek Produk BINARAGA.NET di BPOM Suplemen yang dijual di Binaraga.net original, berasal dari importir resmi yang terdaftar, memiliki izin edar dan sertifikasi BPOM. Informasi yang disediakan dalam Binaraga.net bukan untuk menggantikan nasihat Dokter dan pernyataan didalamnya serta penggunaannya tidak ditujukan untuk mendiagnosa, merawat, menyembuhkan atau mencegah masalah kesehatan apapun. Shop and get Free EBook Rai Institute Rp.120.000, Free Voucher Rp.100.000 untuk mengikuti Sertifikasi Personal Trainer Rai Institute, Anti Aging dr. Phaidon, bergabung dengan komunitas Binaraga Natural terbesar di Indonesia dan free konsultasi Easy Rapid FatLoss & MuscleGain selama 2 minggu. 6 Jam terkirim khusus Jakarta by Gojek & Grab, Cash On Delivery by J&T.





         FAQ
         Member
         Personal Trainer
         Business Athlete
         Anti Aging
         Fat Loss
         Sport Science
         Webinar
         Gym Designer
         Performance Center
    RAI Institute
    RAI Fitness
    Ade Rai
    Tentang Kami
    Brand Activation
    Hubungi Kami
    Alumni RAI Institute
    Become An Owner
    Personal Consultation